Sabtu, 03 Januari 2009

ARTIKEL

Entrepreneurship Bukan Hanya Dagang atau Bisnis

Ditulis pada Nopember 28, 2008 oleh segerhasani

Sumber : Beritajatim.com

Reporter : M Taufik

Surabaya - Kebanyakan orang, kalau mendengar istilah Entrepreneurship (Kewirausahaan) yang ada di benaknya pertama kali adalah dagang atau bisnis. Padahal lebih dari itu, ada banyak usaha (Entrepreneur) yang masuk dalam kategori itu. Misal, Entrepreneurship dalam bidang sosial, penelitian, pendidikan dan lainnya.

Nah, terpatrinya makna dari istilah Entrepreneurship itu yang kebanyakan dimaknakan dalam satu makna yaitu berdagang atau bisnis, disebut oleh Toni Antonio, Rektor Universitas Ciputra sebagai Clasikal Mindset (Pemikiran lama) yang perlu dirubah.

Seperti dijelaskanya, kalau Entrepreneurship bukan hanya sekedar berdagang dan bisnis. Menurutnya, ada entrepreneur lain yang juga patut jadi perhatian. Misalnya, Entrepreneur dibidang sosial seperti Kak Seto, yang include menjadi pemerhati Anak. Kemudian Bill Gate, entrepreneursihip bidang teknologi para tokoh misalnya pendidikan, pakar penelitian dan lainnya.

Dari situ Toni menyimpulkan, kalau sebenarnya istilah Entrepreneurship tidak harus terpaku dalam satu makna dan contoh saja. Lalu, bagaimana cara kita merubah cara pandang kita terhadap itu?

Dihadapan beberapa kalangan akademisi yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi (PT), saat seminar entrepreneurship di Hotel Tunjungan, Surabaya, Kamis (27/11/2008), Toni Antonio mengatakan, salah satunya dengan merubah cara atau pola fikir masyarakat, diantaranya bisa dilakukan melalui jalur pendidikan.

“Terangkan pada mahasiswa, bahwa Entrepreneurship bukan melulu usaha, tapi bisa diartikan dan dimaknakan dengan makna lainnya,” ujarnya.

Caranya, lanjut Toni, bawa mereka dunia nyata. Biarkan kreatifitas mereka mencerna apa yang sesuangguhnya ada di dunia kerja. “Tunjukan pada mereka kalau ada banyak peluang di dunia ini, bukan hanya menjadi pegawai negeri atau kerja diperkantoran saja,” terangnya.

Hal itu juga diamini Johanes, Wakil rektor Universitas Ciputra, yang kebetulan dalam seminar mendampingi Toni Antonio menjadi nara sumber.

Growth is Life

Penting mana, memiliki uang Rp 10.000.000.000,00 atau Rp 500.000,00. Ya jelas siapapun akan memilih yang pertama. Eith, tunggu dulu. Kita lihat kronologisnya dulu…

Anda pilih mana jika uang 10 miliar tersebut hari demi hari terus berkurang. Sementara Rp 500.000 hari demi hari terus bertambah. Anggaplah sama-sama di titik akhir selama 5 tahun, uang 10 miliar tersebut tinggal 4 miliar, sementara yang 500.000 menjadi 10.000.000. Yang pertama, tetap lebih kaya daripada yang kedua.

Orang pertama pasti stress, uangnya kok melorot terus, seperti saham yang berjatuhan. Padahal uangnya masih banyak, 4.000.000.000. Sedangkan yang kedua, dia hanya memiliki 10.000.000, jauh lebih rendah daripada yang pertama, cuman 1/400 x dari yang pertama. Akan tetapi saya jamin, dia sangat gembira melihat perkembangan uangnya (kekayaannya) yang hari demi hari bertambah.

Inilah hikmah sebuah pertumbuhan, dalam sebuah sisi pandang perusahaan. Makanya perusahaan Mukesh Ambani memiliki semboyan yang cukup bagus “Growth is Life”, kehidupan perusahaan itu bukan terletak pada nilai omsetnya atau kekayaannya, tapi pertumbuhannya. Jadi kesimpulannya sebenarnya perusahaan berkembang lebih penting daripada perusahaan kaya. Berbahagialah mereka yang memiliki segala sesuatu yang sedang berkembang. Usaha yang berkembang, anak yang tumbuh kembang dengan baik, asmara yang berkembang, tanam-tanaman yang berkembang subur dan lain sebagainya .. Pokoknya segala sesuatu yang berkembang pasti menyenangkan.

Kita lihat contohnya, banyak cerita yang menggambarkan, betapa senangnya seorang pemilik warung (nasi pecel misalnya), ketika hari demi hari jualannya bertambah laris. Padahal, selaris-larisnya warung tersebut, tetap tidak bisa cukup untuk membeli mobil Xenia misalnya. Lain halnya dengan seseorang yang telah memiliki kekayaannya berlimpah, kedudukan tinggi, mobilnya banyak, Xenia mungkin hanya salah satu saja. Akan tetapi sering juga terdengar kabar bunuh diri atau stress, karena tersandung kasus, dipecat atau perusahaannya lagi menurun drastis. Padahal walaupun nganggur, kesana-kemari tetap naik BMW.

Dalam sebuah kehidupan pribadi, sebagai makhluk berketuhanan, kita sangat disarankan untuk memiliki sifat syukur, berapapun rejeki yang kita terima. Karena memang Tuhan tahu, bahwa jumlah tidak menjadi jaminan. Tidak ada yang menjamin bahwa jika punya kekayaan dengan nilai tertentu, bahagianya juga tertentu. Akan tetapi yang pasti adalah pertumbuhan atau perkembangan positif itulah yang akan memberikan semangat, kebahagiaan, dan spirit positif dalam kehidupan.

Ada sebagian orang yang menurut saya salah menafsirkan target pencapaian sebuah usaha. Mayoritas ingin segera besar, mentarget dengan pencapaian nilai-nilai tertentu, dalam batasan waktu-waktu tertentu. Seperti bimbingan banyak para motivator-motivator sukses. Padahal, kalau sudah mencapai target tersebut tepat pada waktunya, tidak ada yang bisa dinikmati selain membuat target baru lagi. Akhirnya, kita mengejar bayang-bayang yang kita buat sendiri.

Kita inginnya menikmati kalau sudah mencapai target tersebut, tetapi secara logika hal ini tidak mungkin terjadi, sepanjang otak kita masih produktif. Mengapa? Karena kalau kita berhenti berfikir atau bekerja, maka berapapun uang yang kita miliki akan bisa habis. Mau berdiam diri, menghabiskan waktu cari hiburan, dan kerja santai? Mana tahan kalau kita memiliki uang banyak, pasti ingin berkembang terus. Minimal agar bisa dimanfaatkan untuk orang banyak. Akhirnya pasti kita cari bentuk-bentuk investasi baru. Tanpa kecerdasan dalam memilih investasi, uang kita bisa-bisa teramcam habis pula. Akhirnya kita tetap harus memiliki target selanjutnya. Tetap bekerja dan berfikir terus sepanjang hidup.

Akhirnya kesimpulan saya memikirkan proses sebenarnya lebih penting daripada (terlalu) memikirkan target. Gunakan 80% untuk memikirkan proses, dan 20% memikirkan target. Dan nikmatilah masa-masa pertumbuhan tersebut dengan nikmat dan bahagia.

Dalam contoh do’a-do’a memohon rejeki yang dituntunkan Al-Qur’an pun, tidak pernah ada yang mencontohkan target. Semua do’a membimbing kita untuk meminta kehalalan dan keberkahan rejeki yang kita terima. Agar kita dalam proses memperolehnya, maupun memanfaatkannya senantiasa dengan proses yang benar dan dengan spirit yang benar (semangat, senang dan bahagia). Berapapun nanti hasilnya, kita serahkan pada yang Maha Memberi.

Subhanallah. Adil Bukan?

Jadi Enterpreneur atau Pengusaha?

Ditulis pada April 27, 2008 oleh segerhasani

Apakah beda pengusaha dan enterpreneur? Anda ingin jadi pengusaha atau enterpreneur?

Dalam beberapa artikel yang saya baca (dan yang saya pahami), memang ada perbedaan signifikan antara sekedar pengusaha, atau enterpreneur. Dalam beberapa kasus bahkan seorang enterpreneur menurut saya tidak melulu jadi pengusaha (atau jadi orang kaya). Nah, apakah seorang pedagang termasuk juga enterpreneur?

Dalam banyak kesempatan, tulisan, berita atau acara banyak disampaikan bahwa kemajuan sebuah negara amat tergantung dari para enterpreneurnya. Wakil presiden Yusuf Kalla malah sering menyampaikan dalam banyak kesempatan agar jumlah saudagar diperbanyak di negeri ini agar negeri kita lebih cepat berkembang dan maju. Bagaimana korelasinya?

Pertama, mari kita mendifinisikan perbedaan antara pengusaha, pedagang atau enterpreneur.

Seorang pengusaha atau wiraswasta adalah mereka yang mampu mandiri untuk menghidupi diri, baik usahanya atau keluarganya. Artinya, mereka tidak menggantungkan pendapatan mereka dari orang lain atau pemerintah. Pendapatan mereka adalah hasil menjual produk atau jasa mereka sendiri. Sedikit atau banyak tergantung dari nilai jual mereka. Mereka siap menerima resiko sendiri.

Seorang pedagang, adalah juga seorang wiraswasta. Karena mereka juga mandiri. Jika wiraswasta bisa jasa, maka pedagang adalah orang yang berusaha / berbisnis di sistem distribusi barang. Dari selisih nilai jual dan beli inilah mereka memperoleh margin untuk dijadikan keuntungan. Semakin efisien dan besar volume penjualan mereka, semakin besar pula keuntungan yang diterimanya.

Nah, sekarang adalah definisi enterpreneur. Seorang enterpreneur atau enterpreneurship adalah suatu sikap atau kondisi dimana seseorang mampu meningkatkan nilai tambah pada sesuatu barang atau keadaan, sehingga memiliki nilai jual atau manfaat yang lebih baik dari sebelumnya. Pada banyak hal, peningkatan nilai tambah inilah yang menjadi kunci keberhasilan seorang pengusaha enterpreneur.

Seorang pedagang yang sekedar menyalurkan barang, tanpa memberikan sentuhan lebih kepada barangnya sebelum dijual, bukanlah seorang enterpreneur. Akan tetapi, jika barang tersebut adalah setengah jadi kemudian diolah sehingga menjadi barang yang lebih sempurna, maka dia termasuk pedagang enterpreneur.

Mungkin seorang pemodal atau pengusaha yang bisa mendirikan usaha waralaba atau bahkan supermarket besar di kotanya bisa jadi bukan enterpreneur, karena dia sudah menjalankan proses bisnis yang sudah ada dan sekedar menikmati profitnya. Akan tetapi, mungkin dari sisi pemanfaatan lahan yang semula kosong tidak optimal, sehingga sekarang bisa menjadi menghasilkan adalah sikap enterpreneur.

Disinilah akhirnya kuncinya bisa ditemukan. Bahwa, memang ada benarnya jika peningkatan ekonomi sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh banyaknya enterpreneur. Bukan sekedar dari banyaknya wiraswasta atau saudagarnya.

Jika seorang pedagang atau pengusaha hanya mengumpulkan profit dari produk atau usaha yang sudah ada, maka sebenarnya tidak ada nilai tambah dari yang didapatkannya. Karena dia hanya memutar atau mendistribusikan uang dari titik satu ke titik lainnya, dan memperoleh margin dari perputaran tersebut.

Lain halnya jika dia mampu mengolah sesuatu yang nilai awalnya n, menjadi n+m ketika terjual artinya m adalah nilai tambah, bukan n + (m% * n) yang berarti m adalah margin. m pertama inilah yang merupakan nilai tambah produk tersebut.

Sebagai contoh, seorang pedagang pisang yang membeli pisang dari para petani, kemudian dijual lagi di pasar ke para pembeli end user adalah pedagang murni. Dia hanya akan memperoleh selisih harga dari pembelian. Akan tetapi, jika dia mengolahnya lagi, misalnya dimatangkan dengan teknologi atau dikemas bagus, sebelum akhirnya dijual lagi, maka ini adalah sikap enterprenur. Dia tidak sekedar menikmati selisih harga, akan tetapi juga peningkatan nilai produknya.

Enterpreneurship inilah yang sebenarnya lebih dibutuhkan oleh sebuah bangsa daripada sekedar pengusaha. Dimana dengan semakin banyaknya enterpreneur, akan menciptakan nilai-nilai tambah baru terhadap produk dan jasa yang ada. Semakin banyak tumbuh atau meningkatnya nilai-nilai baru, semakin signifikan pula keuntungan yang akan didapat.

Sehingga wajarlah, jika seorang enterpreneur mutlak harus inovatif dan kreatif. Dimana dia harus bisa merumuskan atau berfikir untuk bisa memberikan nilai tambah terhadap apa yang diproduksi atau dijualnya. Selain mampu pula memasarkannya. Sederhananya, enterpreneur harus bekerja keras agar mampu mengubah batu jadi emas.

Di Indonesia banyak sekali potensi, masih banyak sekali batu-batu yang berserakan yang harus diubah menjadi emas oleh para enterpreneur. Seorang pengusaha atau pedagang bisa saja menjual batu tersebut, akan tetapi tentu lebih menguntungkan jika diubah dulu menjadi emas. Batu-batu tersebut saat ini berupa sumber daya alam dan juga sumber daya manusia yang berlimpah.

Disinilah akhirnya korelasi tersebut ditemukan. Bahwa jika para pengusaha-enterpreneur yang tersebar di negeri ini mampu menjadikan batu-batu tersebut menjadi emas, maka kemakmuranlah yang akan tercipta.

Jika pengusahanya saja yang makin banyak, apalagi jika pada sektor atau bidang usaha yang sama, yang timbul hanya persaingan yang ketat dan bisa jadi menuju persaingan yang tidak sehat. Contohnya bisnis operator seluler. Akan tetapi jika yang banyak tersebut enterpreneur, maka yang akan timbul adalah produk-produk (inovasi) baru, pangsa pasar baru dan juga model bisnis-bisnis baru. Yang akan memunculkan banyak kesempatan kerja baru dan sumber-sumber ekonomi baru.

Inilah sebenarnya kondisi ideal yang diharapkan. Yang mampu secara riil meningkatkan harkat dan martabat bangsa. So, mari kita berlomba menjadi enterpreneur.

Hak Atas Kekayaan Intelektual bagi Entrepreneur

Seorang entrepreneur yang baik tidak hanya memiliki kemampuan berbisnis dan marketing, namun juga dapat melindungi kekayaan intelektual dari produknya. Untuk itu peserta Entrepreneurial Intensive Training kerjasama University of Ciputra Entrepreneurship Center dan Jawa Pos (UCEC-JP) dibekali dengan pengetahuan mengenai Hak Atas Kekayaan Intelektual atau yang umum dikenal dengan HAKI.

Dr. Rahmi Jened, S.H., M.H memberikan overview mengenai HAKI pada peserta training UCEC-JP pada Rabu, 9 Juli 2008 bertempat di gedung Graha Pena, Surabaya. Beliau adalah Vice Dean for Cooperation, Development and Information System Affair dari Universitas Airlangga, Surabaya.

Hak Cipta dan Hak Terkait

Hak Cipta adalah hak khusus yang dimiliki pencipta atau pemegang hak atas ciptaannya di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Program/software komputer juga termasuk domain Hak Cipta. Sedangkan Hak Terkait adalah hak eksklusif performers, producers of phonograms dan broadcasting organization atas karya pertunjukkan, karya rekaman suara dan program siaran.

Misalnya, lagu "Menghitung Hari" karya Melly Goeslaw yang terkenal ketika dinyanyikan oleh Krisdayanti. Melly sebagai penggubah memiliki hak cipta atas penggunaan komersil lagu tersebut. Namun Krisdayanti memiliki hak terkait agar lagu tersebut tidak secara sembarangan dinyanyikan oleh penyanyi lain.

Hak Cipta meliputi Hak Ekonomis dan Hak Moral. Hak Ekonomis merupakan hak untuk mengumumkan (Performing Rights) dan memperbanyak (Mechanical Rights), sedangkan Hak Moral menyangkut integritas pencipta.

Hak Cipta dapat diperoleh secara otomatis, namun tidak semua karya berhak mendapat hak cipta (eg: karya plagiat). Syarat substantif Hak Cipta terdiri dari tiga elemen, yakni originality, creativity dan fixation. Suatu karya memiliki unsur originality & creativity jika merupakan hasil kreasi sendiri, walaupun bisa saja terinspirasi dari karya orang lain. Unsur fixation berarti suatu karya telah tertuang dalam bentuk nyata, tidak sekedar ide. Hak Cipta tidak melindungi ide, melainkan ekspresi dari ide.

Lama jangka waktu perlindungan Hak Cipta hampir sama untuk seluruh dunia. Karya utama dilindungi seumur hidup ditambah lima puluh tahun. Karya derivatif sebanyak lima puluh tahun sejak diumumkan pertama kali dan Karya fotografi dan program komputer dilindungi selama dua puluh lima tahun. Hal ini diatur diatur dalam UU No. 19/2002 Tentang Hak Cipta.

Paten

Paten merupakan hak khusus yang diberikan negara kepada inventor atas invensinya di bidang teknologi. Hak Paten meliputi Hak Ekonomi dan Hak Moral. Hak Ekonomi adalah hak untuk menggunakan dan memberi ijin pihak lain untuk menggunakan invensinya, sedangkan Hak Moral melindungi integritas inventor agar namanya tetap dicantumkan dalam Sertifikat Paten.

Pada dasarnya semua teknologi dapat dipatenkan, kecuali :

· Penemuan atas proses atau produk yang pengumuman atau peggunaannya bertentangan dengan perundang-undangan, moralitas agama, kesusilaan dan ketertiban umum.

· Metode tentang pemeriksaan, pembedahan, pengobatan yang diterapkan terhadap manusia dan/atau hewan.

· Teori dan metode di bidang ilmu pengetahuan dan matematika, atau

· Semua makhluk hidup kecuali jasad renik

Aplikasi paten dilakukan pada Kantor Paten Ditjen HKI-Depkeh&HAM dengan pemenuhan persyaratan formil dan materiil. Lama jangka waktu perlindungan Paten adalah 20 (dua puluh) tahun dan 10 (sepuluh) tahun untuk paten sederhana. Paten diatur dalam UU No. 14/2001.

Merek

Hak merek adalah hak eksklusif yang diberikan Negara kepada pemilik atau pemegang merek terdaftar untuk menggunakan merek atau memberikan ijin kepada pihak lain untuk menggunakannya. Merek diartikan sebagai tanda yang memiliki daya pembeda dan digunakan untuk perdagangan barang dan/atau jasa.

Menurut Rahmi Jened, semakin ‘aneh' suatu merek justru semakin baik. Syarat utama suatu merek adalah daya pembeda. Karena itu pilih merek yang tidak dikenal dalam kamus dan tidak dikenal dalam bahasa umum.

Aplikasi pada Kantor Merek Ditjen HKI Depkeh & HAM dengan memenuhi persyaratan formal dan materiil. Jangka waktu perlindungan Hak Merek berlangsung selama 10 (sepuluh) tahun dan setiap saat dapat diperpanjang dengan syarat merek digunakan sesuai pendaftarannya dan ada barang atau jasa yang diperdagangkan.

Merek yang untuk suatu jenis produk tidak boleh dipakai lagi walaupun untuk jenis produk yang sama sekali berbeda. Misal merek Sony identik dengan produk elektronik, tidak dapat dipakai untuk produk -katakan- garmen. Namun hal ini merupakan delik aduan, artinya bila pihak yang dilanggar tidak melaporkan maka tidak serta merta diproses secara hukum.

Indikasi Geografis

Hak atas indikasi Geografis adalah hak eksklusif yang diberikan Negara kepada pemegang Indikasi Geografis terdaftar. Indikasi Geografis meliputi penggunaan tanda (seperti halnya merek) yang dikaitkan dengan faktor geografis (baik alam maupun manusia), e.g: Scotch whisky, Champagne.

Aplikasi dilakukan pada Kantor Merek Ditjen HKI Depkeh & HAM dengan memenuhi persyaratan formal dan materiil : deskripsi faktor geografis. Jangka waktu perlindungan Indikasi Geografis berlaku selama faktor geografis melekat.

Permohonan Hak Merek

Proses pengajuan hak merek total menghabiskan waktu 14 bulan. Setelah memasukkan aplikasi ke Ditjen HKI, kemudian akan dilakukan Pemeriksaan Formil. Pemeriksaan ini meliputi syarat dokumen KTP, NPWP dan 24 lembar Etiket Merek. Filing Date akan diberikan bila syarat-syarat formil telah lengkap.

Proses selanjutnya adalah penetapan Pengumuman kepada publik. Hal ini dilakukan agar apabila ada pihak ketiga yang memiliki merek yang sama menjatuhkan sanggahan. Sebaliknya pihak pemohon dapat mengajukan sanggahan.

Tahap berikutnya adalah Pemeriksaan Substantif dimana dilakukan pemeriksaan apakah suatu merek memiliki kesamaan pada pokoknya dengan merek-merek lain. Setelah tahap ini barulah keluar Keputusan, dimana hasilnya bisa diterima atau ditolak. Bila diterima maka pemohon akan mendapat Sertifikat dan bila ditolak maka pemohon berhak mengajukan keberatan.

Walaupun total waktu permohonan merek memakan waktu 14 bulan, namun setelah mendapatkan nomer filing date pihak pemohon sudah dapat memasarkan produknya sambil menunggu putusan keluar.

Suatu merek biasanya memerlukan beberapa pendaftaran karena bisa saja meliputi beberapa kombinasi bentuk dan warna. Merek yang mengandung elemen tulisan dan logo idealnya didaftarkan sebanyak tiga kali, yaitu : tulisan, logo serta kesatuan tulisan dan logo.

Dalam banyak kasus produk memiliki nilai komersil yang tinggi karena brand. Rahmi mencontohkan bagaimana produk-produk kerajinan tangan dihargai lebih tinggi setelah diberi merek dan dijual ke luar negeri. Karena itu, bagi start-up yang baru membuka usaha, mendaftarkan merek adalah langkah awal yang penting dalam masalah legalitas.

Wirausahawan Muda

Mulai dari Lingkungan Keluarga

by : Fransiskus Saverius Herdiman

"Suatu bangsa akan maju bila memiliki jumlah entrepreneur (wirausahawan) minimal 2 persen dari total jumlah penduduk". Pernyataan itu diungkapkan Ir Ciputra pada malam penganugerahan penghargaan Ernst and Young Entrepreneur of the Year 2007 di Hotel Mulia, Jakarta, (28/11/07). Kala itu, Ciputra mencontohkan Singapura memiliki wirausahawan sekitar 7,2 persen, dan Amerika Serikat memiliki 2,14 persen entrepreneur. Bagaimana dengan Indonesia?

Dari 220 juta lebih penduduk, Indonesia hanya memiliki sekitar 400.000 pelaku usaha mandiri, atau sekitar 0,18 persen wirausahawan dari jumlah penduduknya. Hal ini tentu memrihatinkan. Padahal, menurut pendiri University of Ciputra Entrepeneurship Center (UCEC) ini, potensi Indonesia terbilang besar. Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah siap diolah. Indonesia termasuk dalam ranking 10 besar penghasil tembaga, emas, natural gas, nikel, karet, dan batubara. Dan, masih banyak lagi keunggulan komparatif yang kita miliki. Karena itu, jika menyedikan stok enterpreneur yang cukup dan potensial, Indonesia bisa menjadi pemain internasional yang handal.

Peraih penghargaan Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneurship) Ernst and Young Entrepreneur tahun 2006 Bambang Ismawan mengatakan, wirausahawan muda di Indonesia mulai bangkit. Hal itu dapat dilihat dari minat dan pelaku wirausaha muda yang semakin bertumbuh. Namun dibandingkan jumlah penduduk, jumlah entrepreneur muda yang kita miliki memang masih sangat kurang.

"Lulusan perguruan tinggi lebih banyak yang ingin bekerja sebagai pegawai, sedangkan inisiatif untuk menciptakan lapangan kerja sendiri masih sangat kecil," ujarnya.

Rendahnya minat dan pertumbuhan wirausahawan muda, kata Bambang, terutama disebabkan oleh minimnya dorongan lingkungan keluarga sang anak. Orang tua lebih banyak mengharapkan anaknya bekerja sebagai pegawai negeri atau pegawai kantor. Pasalnya, pekerjaan seperti itu dinilai memiliki risiko kecil dibandingkan menjadi pengusaha. "Orang tua menginginkan anak mereka mendapatkan gaji tetap setiap bulan, daripada harus menunggu keuntungan yang memakan waktu lama," ujar Bambang.

Harapan orang tua ini didukung pula oleh lesunya sektor kewirausahaan dalam negeri. Sektor ini dinilai memiliki risiko tinggi, sementara itu kurang menjanjikan penghidupan yang layak. Karena itu, orang tua petani rela mengeluarkan biaya tinggi untuk menyekolahkan anaknya agar mereka tidak kembali kepada pertanian. Bambang mencontohkan, tamatan Institut Pertanian Bogor (IPB) lebih banyak menjadi wartawan atau pegawai, daripada menjadi petani.

Selain pengaruh lingkungan dalam keluarga, kata Bambang, rendahnya minat kaum muda terjun dalam bidang wirausaha, juga disebabkan oleh arah dan sistem pendidikan yang kurang mendukung. Pendidikan malah tampil sebagai alat untuk menumpulkan semangat berwirausaha. Metode menghafal, misalnya, membuat anak tidak memiliki daya kreasi dan inovasi, yang sangat dibutuhkan dalam dunia kewirausahaan. Karena itulah, Bambang mendesak agar pendidikan, terutama pendidikan tinggi segera dibenahi.

Desakan agar perguruan tinggi melakukan pembenahan - bahkan perubahan paradigma - juga disuarakan Ciputra. Menurutnya, salah satu penyebab rendahnya jumlah entrepreneur di Indonesia adalah sistem pendidikan yang hanya fokus pada penciptaan tenaga kerja, bukan menciptakan enterpreneur-enterpreneur potensial.

"Setiap tahun, lembaga-lembaga pendidikan menghasilkan pengangguran, karena mereka tidak didorong untuk menjadi pelaku wirausaha," ujarnya.

Menurut Ciputra, setiap tahun perguruan tinggi Indonesia melahirkan sekitar 750 lebih sarjana yang menganggur. Karena itu, tantangan perguruan tinggi di Indonesia ke depan, katanya, adalah melahirkan wirausahawan muda.

Menjawab tantangan itulah Ciputra mendirikan sekolah yang fokus pada upaya mengembangkan semangat kewirausahawan siswa, seperti Sekolah Ciputra, Sekolah Citra Kasih, Sekolah Citra Berkat, Sekolah Global Jaya, Sekolah Pembangunan Jaya. Terakhir, ia mendirikan University of Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC). Program yang disiapkan UCEC antara lain mempersiapkan modul pengayaan kewirausahaan untuk kurikulum nasional, mengembangkan kurikulum kewirausahaan di Universitas Ciputra, dan mengadakan pelatihan tiga bulan kepada masyarakat.

Selain dukungan keluarga dan perguruan tinggi, pertumbuhan wirausahawan muda juga membutuhkan peran dunia usaha dan lembaga dunia usaha. Bambang memberi contoh peran pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Organisasi ini seharusnya tidak hanya mendorong lahirnya pengusaha kaya dan bergerak dalam bidang usaha yang membutuhkan penyertaan modal tinggi, tapi juga harus mendorong munculnya pengusaha kecil yang bergerak dalam sektor kecil dan mikro (UMKM).

Potensi sektor UMKM, kata Bambang, sesungguhnya sangat menjanjikan. Dari seluruh entitas dunia usaha yang kita miliki, 95 persen (43 juta) merupakan usaha yang bergerak dalam sektor usaha mikro. Data ini, kata Bambang, memperlihatkan bahwa Indonesia potensial melahirkan wirausahawan yang bergerak dalam usaha mikro dan kecil.

Untuk itu, mental kewirausahaan mesti ditumbuhkan dan didorong terus, seperti kreatif, inovatif, dan berani mengambil risiko sebesar apa pun. Keluarga mesti menjadi lingkungan pertama yang menumbuhkan mental kewirausahaan anak. Dunia perguruan tinggi juga sudah saatnya diubah menjadi entrepreneur university. Swasta dan pemerintah harus mendukung terciptanya iklim kondusif bagi lahirnya wirausahawan muda. Jika iklim itu tersedia, maka wirausahawan muda berprestasi akan terus bertumbuh.Mungkin seperti cendawan di musim hujan. Very Herdiman

Quo Vadis Kewirausahaan di Indonesia?

You can't request more than 20 challenges without solving them. Your previous challenges were flushed.

Mon, 21/04/2008 - 14:51 —

We are in the midst of a silent revolution -a triumph of the creative and entrepreneurial spirit of humankind throughout the world. I believe its impact on the 21st century will equal or exceed that of the Industrial Revolution in the 19th and 20th (Jeffry A. Timmons, The Entrepreneurial Mind)

Pada tahun 2006, data Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan di Indonesia terdapat 48,9 juta usaha kecil dan menengah (UKM), menyerap 80% tenaga kerja serta menyumbang 62% dari PDB (di luar migas). Data tersebut sekilas memberikan gambaran betapa besarnya aktivitas kewirausahaan di Indonesia dan dampaknya bagi kemajuan ekonomi bangsa.

Terlebih lagi ditambahkan dengan data hasil penelitian dari Global Entrepreneurship Monitor (GEM) yang menunjukkan bahwa pada tahun yang sama, di Indonesia terdapat 19,3 % penduduk berusia 18-64 tahun yang terlibat dalam pengembangkan bisnis baru (usia bisnis kurang dari 42 bulan). Ini merupakan yang tertinggi kedua di Asia setelah Philipina (20,4%) dan di atas China (16,2) serta Singapura (4,9%).

Namun di sisi lain, data BPS pada tahun yang sama juga menunjukkan masih terdapat 11 juta penduduk Indonesia yang masih menganggur dari 106 juta angkatan kerja, serta 37 juta penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Fakta-fakta tersebut seakan-akan menunjukkan kewirausahaan di Indonesia tidak dapat memberikan sumbangan yang positif bagi kesejahteraan bangsa.

Padahal seorang pakar kewirausahaan, David McClelland mengatakan bahwa jika 2% saja penduduk sebuah negara terlibat aktif dalam kewirausahaan, maka dapat dipastikan bahwa negara tersebut akan sejahtera. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Profesor Edward Lazear dari Stanford University yang mengatakan bahwa wirausahawan adalah pelaku paling penting dari kegiatan ekonomi modern saat ini.

Apakah ada yang keliru dari data-data tersebut? Ataukah data-data tersebut tidak mencerminkan kondisi kegiatan kewirausahaan yang sesungguhnya? Atau semua hal tersebut memang gambaran yang sesungguhnya dan kita perlu melakukan pembenahan yang lebih serius pada dunia kewirausahaan di Indonesia.

Profil Kewirausahaan di Indonesia

Kegiatan kewirausahaan di Indonesia berkembang paling pesat saat krisis moneter melanda pada tahun 1997. Dari hanya 7000 usaha kecil di tahun 1980 melesat menjadi 40 juta pada tahun 2001. Artinya banyak usaha kecil yang muncul di saat krisis tersebut dikarenakan kebutuhan (necessity) dan kurang didorong oleh faktor inovasi.

Jika data BPS tahun 2006 ditelaah lebih lanjut, 48,8 juta usaha kecil di Indonesia tahun 2006 menyerap 80,9 juta angkatan kerja. Berarti setiap usaha tersebut hanya menyediakan lapangan kerja untuk dirinya sendiri ditambah 1 orang lain. Sementara itu pada saat yang sama, 106 ribu usaha menengah menyerap 4,5 juta tenaga kerja yang berarti 1 kegiatan usaha menengah menyerap 42,5 tenaga kerja.

Ada kesenjangan yang sangat besar antara jumlah skala usaha kecil dibandingkan usaha menengah serta perbedaan yang sangat signifikan dalam kemampuannya menyerap tenaga kerja.

Selain itu, usaha kecil di Indonesia didominasi oleh kegiatan yang bergerak pada sektor pertanian, kehutanan, peternakan, perikanan (53,5%), sementara usaha menengah banyak bergerak di sektor perdagangan, hotel dan restoran (53,7%) dan usaha besar di industri pengolahan (35,4%).

Hal tersebut menunjukkan bahwa dunia kewirausahaan di Indonesia memang tertinggal dibandingkan negara lain yang sudah memasuki abad informasi dan pengetahuan. Dunia kewirausahaan Indonesia masih banyak yang mengandalkan otot dibandingkan otak. Kerja keras dibandingkan kerja cerdas.

Apa yang harus dilakukan?

Dengan melihat profil kewirausahaan di Indonesia tersebut, maka ada tiga hal yang perlu dilakukan.

Pertama, pengembangan jiwa dan karakter wirausaha sejati. Perlu lebih banyak wirausahawan di Indonesia yang dilahirkan dengan didorong oleh visi dan inovasi dan bukan semata-mata karena keterpaksaan dan hanya menjadikan kegiatan usaha sebagai tempat singgah sementara (sampai mendapatkan pekerjaan).

Hal ini menjadi tugas dari dunia pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, karakter dan ketrampilan kreatif serta sikap mandiri dan pro-aktif harus mewarnai semua kegiatan pembelajaran.

Kedua, pengembangan ketrampilan membesarkan usaha. Kegiatan usaha kecil yang sudah ada harus dibina dan dikembangkan. Jika 50% saja kegiatan usaha kecil di Indonesia berkembang dan membutuhkan tambahan 1 orang tenaga kerja, maka akan tersedia 24,4 juta lapangan kerja baru. Di saat seperti itu, mungkin kita harus mulai mengimpor tenaga kerja asing.

Hal ini dapat diupayakan dengan mengembangkan kerja sama antara pemerintah, dunia usaha dan dunia pendidikan. Ketrampilan mengembangkan usaha tersebut meliputi ketrampilan berinovasi dan manajerial yang bersifat strategis. Oleh karena itu UKM tidak dibesarkan dengan semata-mata suntikan hormon (dana).

Ketiga, arah dan pengembangan keunggulan bersaing bangsa. Negara China bekerja keras mengembangkan infrastruktur fisik untuk meningkatkan daya saing barang-barang hasil produksinya. Negara India meningkatkan infrastruktur dan brainware teknologi informasi untuk dapat bersaing di dunia IT. Apa yang harus dilakukan Indonesia?

Sudah merupakan hal yang nyata, bahwa interaksi dan hubungan antarnegara saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Prilaku negara sudah menjadi seperti prilaku perusahaan besar yang bersaing satu sama lain. Oleh karena itu agar dapat menjadi bangsa yang unggul dan diperhitungkan, maka Indonesia harus segera menemukan dan mengembangkan keunggulan intinya.

Setelah itu pemerintah harus mengarahkan dunia kewirausahaan untuk bergerak dan menunjang keunggulan bersaing bangsa tersebut. Dengan demikian, maka kita kelak akan melihat negara Indonesia menjadi semacam perusahaan raksasa yang menaungi puluhan juta wirausahawan sejati.

Pariwisata Surabaya dan Entrepreneurship

Fri, 18/04/2008 - 13:23 — agoes.tinus

Kedua, lemahnya manajemen di kawasan wisata di Surabaya, khususnya masalah kebersihan dan keamanan. Sebagian besar tempat wisata di Surabaya dikelolah oleh Pemkot melalui UPTD. Kesadaran akan kualitas tempat wisata, baik dari segi tampilan, penataan ruang, kebersihan toilet maupun keamanan, kerap diabaikan. Sementara, 3 hal sangat dibutuhkan oleh wisatawan, yaitu kebersihan, keamanan dan keakuratan informasi.
Dari segi nilai historis, atraksi dan makna budaya, keberadaan Tugu Pahlawan, Monkasel, Kebun Binatang, Patung Joko Dolog, Grahadi, Pantai Kenjeran dan pelabuhan tradisional Kalimas memiliki potensi untuk menarik wisatawan. Sayangnya, lemahnya manajemen di tempat-tempat tersebut membuat banyak wisatawan, asing khususnya, enggan berkunjung ke sana,


Ketiga, kurang adanya fasilitas

pendukung wisatawan di dalam kota. Fasilitas pendukung bertujuan untuk mempermudah wisatawan, asing khususnya, bergerak dari satu tempat ke tempat lain secara mandiri tanpa bantuan dari travel agent. Untuk itu, yang dibutuhkan adalah informasi akurat tentang tempat-tempat yang menarik di Surabaya yang bisa diakses dengan mudah. Semacam Tourist Information Center.
Entrepreneurship


Ketiga persoalan di atas berakar pada lemahnya semangat dan praktik kewirausahaan dalam pengelolaan pariwisata. Dr. Ir. Ciputra, pendiri dan pemilik Ciputra group, menyatakan, kewirausahaan tidak selalu identik dengan pemilik bisnis. Ada 4 kategori kewirausahaan, yaitu business entreprenuer (pemilik usaha dan profesional), government entreprenuer, social entreprenuer dan academic entreprenuer. Benang merah dari 4 klasifikasi itu adalah, mampu membuat perbedaan, perubahan dan pertumbuhan positif dalam profesi dan pekerjaan mereka. Berdasarkan klasifikasi tersebut, pembangunan pariwisata Surabaya membutuhkan 3 bentuk kewirausahaan, yaitu business entreprenuer, government entreprenuer dan academic entreprenuer.


Dari sisi business entreprenuer, dibutuhkan pebisnis ataupun profesional yang mampu menyulap tempat-tempat yang sepertinya tidak beharga menjadi aset yang luar biasa. Seperti yang dilakukan Pak Ci dengan menyulap kawasan yang dulunya kumuh, menyeramkan dan bahkan konon dipakai sebagai pembuangan jin, menjadi Taman Impian Jaya Ancol.


Dari sisi government entreprenuer, harus dapat membuktikan bahwa melalui pariwisata, masyarakat bisa hidup damai dan sejahtera. Karena itu, penataan 'sektor marginal kota' seperti PKL, pasar tradisional atau stren kali, perlu dilakukan secara bijaksana. Dalam hal ini, relokasi 'sektor marginal kota' merupakan langkah terakhir. Renovasi lebih harus menjadi pilihan utama. Pun halnya, keberadaan pasar tradisional di pusat kota, seperti pasar Keputran dan Pandegiling, dapat dipahami sebagai aset wisata. Banyak kota tujuan wisata di dunia, seperti Melbourne dan Bangkok, memiliki pasar basah di tengah kota.


Yang tidak kalah penting adalah academic entrepreneur. Banyak institusi pendidikan pariwisata berdiri di Surabaya, mulai SMK kejuruan, diploma, hingga level sarjana. Sayangnya orientasi mereka untuk mencetak lulusan yang menjadi pekerja pariwisata. Jarang ada institusi yang berfokus untuk membekali lulusannya memiliki semangat dan kemampuan kewirausahaan di bidang pariwisata khususnya. Bila ini terus terjadi, maka niscaya kondidi pariwisata kota Surabaya tidak akan banyak perubahan, karena belum banyak orang-orang yang mampu menangkap peluang menjadikan suatu tempat atau keadaan menjadi aset wisata kota. Semisal, menyulap LP Kalisosok menjadi tempat tujuan wisata sejarah seperti bekas penjara Alcatras di Amerika Serikat dan Melbourne Old Gaol di Australia. Dalam hal ini bila semua kategori Entreprenurship yang ada bisa diaplikasikan dengan baik, maka niscaya pariwisata surabaya akan semakin cemerlang, sesuai dengan semboyannya "Sparkling Surabaya".

Menjawab Persoalan Bangsa dengan Entrepreneurship


Oleh : Bambang Ismawan (Pendiri Yayasan BinaSwadaya)

Entrepreneur menurut kamus Oxford : ”A person who undertakes an entreprise or business, with the chance of profit or loss”. Seorang yang bertanggung jawab atas sebuah bisnis dengan memikul risiko untung atau rugi. Entrepreneur dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu business entrepreneur dan social entrepreneur. Perbedaan pokok keduanya utamanya terletak pada pemanfaatan keuntungan. Bagi business entrepreneur keuntungan yang diperloleh akan dimanfaatkan untuk ekspansi usaha, sedangkan bagi sosial entrepreneur keuntungan yang didapat (sebagian atau seluruhnya) diinvestasikan kembali untuk pemberdayaan ”masyarakat berisiko”. Namun dalam trend global dikotomi semacam itu kian kabur, sebab mereka (business entrepreneur dan social entrepreneur) sesungguhnya berbicara dalam bahasa yang sama. ”Kami bicara dalam bahasa yang sama yaitu : inovasi, manajemen, efektifitas, mutu dan kompetensi” (Fred Hehuwat, 2007).


Memasuki era Revolusi Industri, para business entrepreneur (sektor bisnis) telah menjadi motor penggerak dalam perubahan-perubahan dunia, tidak hanya dalam lingkup ekonomi dan industri namun juga banyak sektor kehidupan masyarakat.

Sementara, dalam tiga dekade terakhir para social entrepreneur banyak berkontribusi pada pembangunan sektor sosial di masyarakat. Seperti : Muhammad Yunus (Grameen Bank), Peter Eiger (Transparency International, Jerman), Alice Tepper-Marlin (Social Accouantability, AS), dan Bill Drayton (Ashoka Foundations, AS). Tampak pula, para business entrepreneur pun banyak yang kian intens melakukan program-program pemberdayaan masyarakat. Mereka tidak sekedar melakukan tanggung jawab sosial(corporate social responsibility) dalam tataran yang sempit, namun banyak yang termotivasi untuk pemberdayaan masyarakat dalam lingkup yang luas. Mereka berkiprah dalam beragam program pemberdayaan masyarakat, baik bidang ekonomi, pendidikan dankebudayaan, kesehatan, sarana dan prasarana maupun lingkungan hidup.

Dengan spirit yang dimilikinya, entrepreneur dapat mengubah masyarakat bahkan dunia. Contoh berikut membuktikan hal itu.

Pertama, Thomas Alva Edison (1847 – 1931) pada usia 22 tahun menemukan Telegraf, dan beberapa tahun kemudian menemukan Lampu Pijar pertama yang dapat menyala 40 jam. Ia terus berkarya hingga usia 84 tahun dan menghasilkan sekitar 1.300 paten atas namanya, serta telah memasarkan sebagian besar produknya. Perusahaan yang didirikan untuk memasarkan produknya kita kenal dengan nama General Electric (GE). GE adalah perusahaan no. 5 di Amerika Serikat dan no. 9 di dunia yang mempekerjakan sekitar 325.000 karyawan.

Kedua, Muhammad Yunus pendiri Grameen Bank dan peraih nobel perdamaian 2006 dari Bangladesh. Ekonom ini lulusan Vanderbilt University, AS ini sangat terusik dengan kemiskinan yang massive di negerinya, sementara teori-teori ekonomi yang dipelajarinya tidak bisa memecahkan persoalan kemiskinan. Akhirnya ia terjun langsung dengan memberikan pinjaman sekitar US$ 27 bagi 42 orang petani dan pengrajin. Upaya ini kemudian bertumbuh menjadi model lembaga keuangan pedesaan yang terkemuka di dunia. Model pelayanan keuangan yang dikembangkannya telah direplikasikan di 58 negara. Lembaga keuangan tersebut dikenalsebagai Grameen Bank (bank desa) yang kini melayani sekitar 7 juta orang (7.309.335 per 30 September 2007) dan sebagian besar(97 %) adalah perempuan. Jumlah outstanding credit US$ 500,67 juta dan tingkat pengembalian 98,40 %. Karya Yunus membuktikan, bahwa orang-orang miskin, atau pengusaha mikro (economically active poor) adalah bankable.


Bina Swadaya Entrepreneruship.

Bina Swadaya merupakan lembaga pemberdayaan masyarakat yang lahir pada 24 Mei 1967 oleh sejumlah aktivis Ikatan Petani Pancasila (IPP) yang merasa terpanggil untuk memberdayakan masyarakat miskin dan terpinggirkan. Bina Swadaya pun berupaya menjadi wahana pemberdayaan masyarakat yang mandiri dan konsisten, serta hadir secara kontekstual. Mandiri berarti adanya tekad untuk membangun dan menjaga kemandirian keuangan, dengan tidak bergantung pada bantuan lembaga dana. Konsisten dibuktikan dengan tetap berpegang teguh pada visi – misi pemberdayaan masyarakat miskin dan terpinggirkan. Kontekstual berarti hadir untuk menjawab kebutuhan dan mengantisipasi tantangan dan peluang yang ada.


Kiprah Bina Swadaya secara ringkas digambarkan dalam tiga era atau periodisasi berikut.

Pertama, Era Gerakan Sosial Pancasila (1954 – 1973). Karakterisitik perjuangan pada era Orde Lama ini adalah mengarusutamakan (mainstreaming) pembangunan untuk pemberdayaan masyarakat miskin.

Kedua, Era Lembaga Pengembangan Sosial Ekonomi (1974 – 1998). Bina Swadaya memposisikan diri sebagai Lembaga Pengembangan Sosial Ekonomi dengan pendekatan mengembangkan laboratorium sosial dan bekerjasana dengan berbagai lembaga pemberdayaan masyarakat, baik pemerintah maupun swasta, dalam dan luar negeri.

Ketiga, Era Kewirausahaan Sosial (KS), 1999 – sekarang. Ditandai dengan maraknya tuntutan reformasi, demokratisasi dan otonomi daerah. Pada era ini Bina Swadaya memantapkan diri sebagai organisasi kewirausahaan sosial yang mengembangkan keberdayaan masyarakat dengan menserasikan kemandirian secara finansial.

Kini Bina Swadaya Bina Swadaya bergerak dalam 7 bidang kegiatan yaitu : (1) Pemberdayaan masyarakat warga (Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Pusat Kajian, Bina Swadaya Konsultan, dan Gugus Wilayah); (2) Pengembangan keuangan mikro (Bank Perkreditan Rakyat dan kantor cabang Pelayanan Keuangan Mikro); (3) Komunikasi pembangunan (Majalah Trubus, buku-buku pertanian non pangan, bahasa, kesehatan, ketrampilan, pendidikan, gaya hidup, perumahan, dan buku-buku cerita. Termasuk dalam kelompok iniadalah jasa pemasaran buku dan majalah; (4) Jasa percetakan; (5) Pengembangan agribisnis melalui Toko Pertanian; (6) Pariwisata alternatif; (7) Jasa akomodasi untuk pertemuan, pelatihan, workshop dan seminar.


Entrepreneurship sebagai solusi.

Seperti telah dijelaskan, Bina Swadaya hadir untuk upaya mengatasi masalah ketidakberdayaan masyarakat. Ketidakberdayaan dapat dirumsukan sebagai kondisi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan masyarakat. Ketidakberdayaan masyarakat merupakan masalah yang multi-dimensi dan sulit terhapus dari muka bumi. Penyebab ketidakberdayaan dalam masyarakat Indonesia dapat ditelusuri dari beberapa faktor yaitu : (1) Warisan penjajahan; (2) Ketidakstabilan pemerintahan; (3) Jebakan ketergantungan; (4) Devaluasi mata uang yang sangat besar; (5) Korupsi, kolusi, dan nepotisme; (6) Bencana alam dan bencana sosial (kerusuhandan konflik horisontal) serta; (7) Kerusakan lingkungan.

Sementara Muhammad Yunus melihat salah satu sumber masalah kemiskinan di Bangladesh adalah ketidakadilan sosial. Ia pun sampai pada kesimpulan, “Mengatasi ketidakadilan sosial yang semakin marak, kewirausahaan sosial adalah jawabannya”.

Berlandaskan pada spirit entrepreneurship, Bina Swadaya mengembangkan tiga pendekatan : (1) Pengembangan kelembagaan masyarakat mandiri yaitu Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), (2) Pelayanan keuangan mikro melalui kelembagaan bank dan non bank, (3) Pengembangan berbagai produk untuk peningkatan usaha dan pendapatan masyarakat, melalui media massa. (4) Menggagas Gerakan Pemberdayaan Masyarakat yang berkelanjutan dengan membangun dan mengembangkan kerjasama antara Receiving Mechanism,Delivery Mechanism, dan Service Provider, serta memperjuangkan Kebijakan Pemerintah yang kondusif.

Dengan semakin pesatnya kemajuan teknologi informasi, masyarakat dapat dengan mudah menggali banyak informasi yang diperlukan untuk mengembangkan sektor-sektor usaha yang prospektif. Dengan kejelian dan kreativitas serta diladandasi dengan tekad yang kuat, maka upaya untuk menjadi entrepreneur akan dengan mudah tercapai. Semoga

Menjadi Entrepreneur Bukan Sekadar Memperkaya Diri Sendiri

Posted on August 9, 2008 |

Pekan lalu, dua andalan Virtual Consulting — yakni Iim Fahima dan Tuhu Nugraha — terpilih sebagai finalis IYCEY 2008, yaitu sebuah ajang pemilihan Young Creative Entrepreneur yang diadakan setiap tahun oleh British Council. Sepuluh finalis kebanyakan berlatarbelakang CEO, Founder, GM maupun Director dengan usia dibawah 35 tahun ini. Iim Fahima sendiri adalah founder, direktur, dan online marketing communications strategist Virus Communications, sayap usaha Virtual Consulting di bidang online marketing communications yang ia lahirkan bersama suaminya, Adhitia Sofyan, dua tahun lalu. Sedangan Tuhu Nugraha adalah senior web consultant Virtual Consulting yang banyak memberi terobosan baru Web 2.0 marketing pada klien-klien Virtual Consulting, termasuk Toyota Astra Motor.

Meski tidak menang, keduanya sangat terkesan dengan ajang tahunan tersebut dan bertekad akan mengikuti lagi tahun dengan dengan semangat yang tak kalah menggebu dibanding tahun ini.

Bagaimana kesan Iim? Di bawah ini penuturannya:

Para finalis, buat saya, adalah sekumpulan anak muda brilian yang membuat saya begitu bangga dan bersyukur bertemu dengan mereka. Kreatifitasnya, pemikiran-pemikirannya yang tajam, semangat untuk menerobos kemapanan adalah segelintir attitude yang membuat saya thrilled. Jangan menduga dengan attitude seperti itu, mereka adalah orang-orang yang ’serius’. No. Mereka sangat jauh dari sifat serius atau pun kaku. Mereka ‘bocor’ dan ‘gila’ =).

Oleh-oleh yang paling berbekas di benak saya dari event ini ada 2:

Pertama: Saya semakin disadarkan dan diingatkan bahwa menjadi entrepreneur bukan hanya untuk memperkaya diri.

Triawan Munaf, salah satu Juri IYCEY sempat ngobrol selintas dengan saya tentang perlu ditonjolkannya pemikiran dan action terkait aktifitas Corporate Social Responsibility (CSR).

Irfan Amalee, Founder dan CEO Mizan Publisher yang menjadi pemenang di sektor komunikasi, mengangkat sebuah success story Mizan Publisher dalam membuat ‘Peace Generation Program’ yang eksekusinya berupa buku-buku interaktif untuk anak-anak yang isinya sarat dengan pesan moral perdamaian. Lewat promosi door to door yang zero funding, saat ini sudah lebih dari 10.000 pelajar dari Jawa, Kalimantan dan Aceh terlibat di program ini, juga 100 peace agent yang terdiri dari guru, trainer dan donatur menyebar di seluruh Indonesia. Irfan bercita cita suatu saat program Peace Generation ini bisa mendunia.

Dua hal diatas, somehow kembali mengingatkan saya perlunya sebuah perusahaan memiliki sebuah VISION, yang buat saya adalah sebuah spiritual objective yang diturunkan dalam spriritual statement, spiritual action. Vision ini yang akan menjadi tujuan akhir perusahaan, memberi hati pada setiap aktifitas dan pada akhirnya membuat perusahaan memiliki dampak positif terhadap lingkungan. Bukan sekedar memperkaya diri.

CSR ‘hanya’ sebuah eksekusi amal baik. Di balik CSR, harus ada sebuah dorongan yang lebih besar. Vision. Hal ini lah yang akan membuat CSR betul-betul dilakukan dengan hati, bukan topeng untuk menarik simpati publik.

Memiliki visi yang jelas dan bulat, bukanlah hal mudah. Membuatnya mendarah daging dalam diri kita is another hard work, apalagi membuatnya mendarah daging di para pegawai. Tapi itulah tantangan entrepreneur, karena menjadi entrepreneur bukan hanya untuk memperkaya diri sendiri, tapi lebih besar dari itu, membuat bisnis kita memberi dampak positif terhadap lingkungan, negara, kemanusiaan.

Kedua: Luangkan waktu untuk berpikir hal-hal strategic.

Salah satu acara selama masa karantina IYCEY adalah diskusi tentang business strategic yang dipandu oleh Wayah PhD dari Universitas Bina Nusantara. Dalam diskusi tersebut, pak Wayah menyebutkan bahwa hal yang biasa terjadi pada pengusaha yang baru membuka bisnisnya adalah tuntutan untuk memantau bahkan ikut terlibat secara detail setiap aktifitas bisnis. Akibatnya, setiap hari kita sibuk tenggelam dalam hal-hal yang sifatnya eksekusi dan lupa meluangkan waktu untuk berpikir strategic untuk mengembangkan bisnis. Ketika kita sadar, pasar sudah berubah, kompetisi sudah bergeser, dan kita gelagapan mengantisipasi perubahan itu.

Sebuah paparan yang insightful.

Kata salah seorang finalis, berikan waktu untuk bengong, alias keluar dari rutinitas dan berpikir kreatif. Ipod adalah hasil bengong Steve Jobs. Bengong tidak akan membuat produktifitas menurun. Sebaliknya, justru akan membantu kita stay alert dengan perubahan-perubahan yang terjadi dan bukan tidak mungkin, ditengah bengong kita malah mendapatkan ide kreatif untuk mengembangkan bisnis.

Itulah sudut pandang Iim, yang memutuskan pindah kuadran dari profesional iklan menjadi entrepreneur dua tahun lalu. “Being an entrepreneur is not only about making yourself rich“, katanya. Menjadi entrepreneur bukan sekadar memperkaya diri sendiri.

Sayangnya, saya masih sering mendengar, motivasi mereka yang ingin pindah kuadran ke pengusaha adalah uang, harta, kekayaan dan sejenisnya. Memang, jenis-jenis kekayaan kasat mata ini merupakan motivasi paling manjur. Itu sebabnya banyak motivator yang laris manis karena menawarkan jurus-jurus dan motivasi kaya mendadak — kalau perlu, tanpa modal.

Di tengah arus yang seperti itu, saya senang mendengar sudut pandang Iim. Saya bahagia ada ajang seperti IYCEY yang membekali pengusaha mudah belia dengan semangat untuk menjadi lebih dari sekadar kaya, untuk lebih banyak memberi manfaat kepada yang lain. Semangat ini yang terus digembar-gemborkan oleh segelinir pengusaha atau kelompok pengusaha seperti Roni Yuzirman dan kawan-kawan melalui Tangan Di Atas, dengan tagline-nya “Bersama Menebar Rahmat”, serta Jamil Azzaini dengan visi “Sukses Mulia” nya.

Membentuk 10.000 Pengusaha Milyarder

Posted on June 10, 2008 |

Sepuluh ribu pengusaha milyarder? Itu berarti membantu para calon pengusaha menjadi pengusaha atau para pengusaha yang sudah ada, agar mereka mampu memiliki kekayaan bersih (net worth) di atas satu miliar rupiah per tahun. Fantastis. Yang fantastis bukan angka satu miliarnya, tapi jumlah 10 ribu pengusahanya itu!

Tapi itulah yang menjadi salah satu misi Tangan Di Atas (TDA), sebuah “gerakan tak berbentuk” para pengusaha menengah ke bawah yang dibidani Roni Yuzirman. Kalimat lengkapnya seperti ini: “Membentuk 10.000 pengusaha milyarder yang tangguh dan sukses sampai tahun 2018“.

Tentu itu bukan angka main-main. Itu sebabnya, TDA yang kini memiliki .2.100 anggota saat ini — yang kebanyakan adalah calon pengusaha dan pengusaha pemula — mulai membentuk sebuah organisasi yang lebih profesional. Tantangan di depan sangat banyak. Mewujudkan 10 ribu pengusaha milyader butuh upaya yang hebat dan terus-menerus tanpa lelah, serta perlu bekerjasama dengan berbagai pihak yang dapat mendukung salah satu visi TDA tersebut.Organisasi itulah yang diumumkan Jumat, 6 Juni 2008 kemarin. Posisi Ketua Badan Musyawarah dipegang sendiri oleh: Badroni Yuzirman, sementara sekretarisnya adalah Hasan Basri, dan anggota: Hertanto Widodo, Iim Rusyamsi, Agus Ali, Hantiar, Yulia Astuti. Mereka memang para pendiri TDA, sudah selayaknya mereka yang memimpin generasi pertama pengurus profesionalnya.

Saya sendiri, Nukman Luthfie, ditunjuk sebagai penasehat bersama Eri Sudewo, Jamil Azzaini, Valentino Dinsi, Zainal Abidin, Prijono Nugroho, Tung Desem Waringin, H Jhon Idris dan Hanawijaya. Ketua Dewan Penasehat dipegang oleh pemrakarsa TDA, yakni Haji Alay.

Selain itu, TDA membentuk pengurus yang bisa mengekskusi visi dan misi organisasi, terdiri dari komisi etika, direksi, dan internal audit. Pengurus ini dipimpin oleh Iim Rusyamsi untuk periode 2008-2010.

Di bawah ini visi lengkap TDA:

Membentuk pengusaha-pengusaha tangguh dan sukses yang memiliki kontribusi positif bagi peradaban.

Tangguh, dalam arti: Konsisten, Kuat, Tanggungjawab, Gigih, Berani, Kreatif & inovatif.

Sukses , dengan pengertian: Seimbang dalam hidup (finansial, sosial, kesehatan, spiritual, keluarga, mental), Bahagia, Financial freedom, Mampu berbagi serta Abundance Mindset (keberlimpahan).

Adapun misi TDA adalah:
1. Menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan
2. Membentuk 10.000 pengusaha miliader yang tangguh dan sukses sampai tahun 2018
3. Menciptakan sinerji diantara sesama anggota dan antara anggota dengan pihak lain, berlandaskan prinsip high trust community
4. Menumbuhkan jiwa sosial dan berbagi di antara anggota
5. Menciptakan pusat sumber daya bisnis berbasis teknologi

Sesuai dengan motonya “Bersama Menebar Rahmat”, saya yakin, TDA agar bergerak maju untuk mewujdukan visi dan misinya. Apapun hasilnya kelak, apa yang dirintis TDA ini merupakan sumbangan nyata bagi kebangkitan Indonesia.

Kisah Sukses Seorang Wirausahawan Sosial

Oleh: ST SULARTO

Peringatan 70 tahun usia Bambang Ismawan, lahir 7 Maret 1938, ditandai dengan terbitnya dua buku. Buku pertama berjudul Bambang Ismawan Bersama Wong Cilik dan buku kedua Mazmur Ismawan.

Delapan puluh dari 284 halaman buku pertama berisi perjalanan hidup Bambang Ismawan, lengkapnya Fransiskus Xaverius Bambang Ismawan, mulai dari desa kelahirannya di Babat, Lamongan, Jawa Timur, sampai di Jakarta, tepatnya di Cimanggis, Jawa Barat; sisanya sekitar 200 halaman berisi komentar-komentar teman, kolega, dan orang-orang yang pernah bersentuhan dengan Bambang Ismawan atau Bina Swadaya, yayasan yang menaungi berbagai usaha Bambang Ismawan bersama sejumlah kerabatnya.


Adapun buku kedua berisi napak tilas jejak langkah Bambang Ismawan, sebuah perjalanan retret bersama istri, Sylvia Ismawan, dan sejumlah teman dekat selama tujuh hari, menziarahi berbagai tempat di Jawa, dari Babat sampai Cimanggis. Kedua buku terangkai sebagai kisah sukses seorang wirausahawan sosial Bambang Ismawan.

Nama Bambang Ismawan tak bisa dipisahkan dengan Yayasan Bina Swadaya, sebuah yayasan yang semula bernama Yayasan Sosial Tani Membangun, didirikan bersama I Sayogo dan Ir Suradiman tahun 1967. Komitmen dan perhatiannya pada pemberdayaan masyarakat kecil (wong cilik) sudah terlihat sejak menjadi mahasiswa FE UGM—yang tidak mau menjadi pengusaha seperti umumnya alumni fakultas ekonomi pada masa itu—membawa Bambang Ismawan terlibat dalam kegiatan alternatif pemerintah yang dulu dikenal sebagai organisasi nonpemerintah (ornop), nongovernment organization (NGO), tetapi kemudian dia introdusir nama lembaga swadaya masyarakat (LSM), sebuah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang kemudian dipakai sebutan umum segala kegiatan yang tidak berasal dari pemerintah, baik yang memfokuskan kegiatan advokasi maupun aksi langsung.

Bambang Ismawan bersama Bina Swadaya dikenal sebagai pelopor gerakan LSM yang berusaha mandiri, tidak tergantung dari bantuan, lewat berbagai usaha—dalam buku kedua disebutkan sebagai LSM terbesar di Asia Tenggara—karena itu pernah disindir sebagai membisniskan kemiskinan pada era tahun 1980-an. Namun, pada satu dekade kemudian, Bambang membuktikan langkah yang dia lakukan selama ini tidak keluar dari jalur pemberdayaan.

Koperasi yang dirintis awal kegiatan Bina Swadaya membuktikan masyarakat bisa mandiri, yaitu orang memperoleh kepastian atas hak miliknya, yang sejalan dengan pemikiran sosiolog Hernando de Soto, yaitu kepastian hak milik dipenuhi antara lain lewat sertifikasi tanah. Dalam konteks kemudian, mengaku berkali-kali bertemu pemenang Nobel dari Bangladesh, Muhamad Yunus, apa yang dilakukannya dalam menggerakkan swadaya masyarakat adalah mengadvokasi dan memberikan semangat bekerja pada masyarakat.

Bina Swadaya yang dirintis dan dikembangkannya saat ini dari sisi sebuah usaha dengan omzet Rp 20 miliar, 900 karyawan tetap, melayani secara langsung 100.000 keluarga miskin. Pusdiklat di Cimanggis sudah melatih sekitar 7.000 pimpinan LSM pengelola pemberdayaan masyarakat, penerbitan majalah luks pertanian Trubus yang terbit pertama tahun 1969 kini dengan oplah 70.000 eksemplar, penerbitan buku-buku pertanian sejak 25 tahun lalu disusul buku-buku kesehatan, keterampilan, dan bahasa, 12 toko pertanian di Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Bina Swadaya tidak lagi sebuah LSM yang kegiatannya mengandalkan dana pihak ketiga. Dalam usia 70 tahun, setelah 40 tahun lebih menangani Bina Swadaya sebagai Ketua Pengurus, resmi Bambang menyerahkan tongkat kepemimpinan pada Nico Krisnanto, mantan bankir yang sudah beberapa tahun belakangan ini magang di Bina Swadaya.


Tiga jalur

Dalam rencana kerja 10 tahun yang akan datang, Bina Swadaya ingin menjadi LSM yang besar dengan karyawan 5.000 orang pada tahun 2015 (buku pertama, hal 46), dengan tetap berpijak pada roh dan semangat awal, yakni pemberdayaan wong cilik. Sebutan macam-macam, akhirnya tepat yang dirumuskan untuk sosok Bambang Ismawan oleh Harry Tjan Silalahi, ”menolong wong cilik bukan karena merasa sebagai orang besar” (buku pertama, hal 25), menurut Frans Magnis Suseno SJ, ”berusaha di tingkat akar rumputbukan bagi masyarakat, melainkan bersama masyarakat untuk memperbaiki kehidupan mereka” (buku pertama, hal 111).

Menurut Bambang, untuk memberdayakan masyarakat dibutuhkan tiga jalur sebagai pegangan kerjanya selama lebih dari 40 tahun (buku pertama, hal 22-23). Jalur pertama lewat pengembangan kelembagaan. Lewat koperasi berbasis komunitas Bina Swadaya mendampingi lebih dari 20 juta keluarga bekerja sama dengan sejumlah lembaga. Lewat jalur ini koperasi yang digagas pertama kali oleh Bung Hatta sebagai usaha pemberdayaan masyarakat tetapi terperosok berhadapan dengan pengembangan ekonomi yang bermotif utama keuntungan margin, oleh Bina Swadaya dibuktikan sebagai lembaga yang tepat bagi pemberdayaan masyarakat.

Jalur kedua lewat jalur pengembangan ekonomi mikro. Menabung, kebajikan yang mungkin aneh di zaman konsumeristis sebagai penggerak roda ekonomi sekarang, oleh Bambang Ismawan dihidupkan sebagai jalur kedua pemberdayaan.

Dia beri contoh, di Cisalak para bakul harus membayar bunga 20 persen per bulan, di Muara Karang nelayan didera 50 persen bunga. Mengapa? Karena mereka tidak biasa menabung, tidak menyisihkan sebagian pendapatannya untuk disimpan. Yang perlu adalah pengubahan paradigma tentang sikap mengenai uang, lebih jauh tentang sikap hidup.

Bina Swadaya sejak tahun 1970-an mendorong masyarakat rajin menabung. Untuk usaha ini disalurkan kredit mikro bagi lebih dari sejuta orang di berbagai kota, dan tengah mengadopsi sistem Association for Social Advancement (ASA) yang dikembangkan Muhamad Yunus dari Bangladesh lewat Grameen Bank.

Jalur ketiga lewat promosi produk unggulan. Lewat majalah Trubus sudah diperkenalkan paling sedikit 19 produk unggulan yang mengangkat taraf hidup rakyat. Ada agroekspo, pengembangan burung walet, virgin coconut oil, anthurium, lobster air tawar, buah merah, sarang semut, dan lain-lain yang berdampak pada tumbuhnya lebih dari 4.000 industri agrobisnis.

Menurut Bambang, jalur tersulit dari tiga jalur itu adalah jalur kedua. Ada gesekan dan konflik kepentingan. Beberapa orang menyatakan tidak sanggup mengubah peran dari pendamping menjadi tukang tagih yang harus menjamin pengembalian pinjaman, sampai terjadi seorang direktur memperkarakan pengurus yayasan; suatu pekerjaan sulit sebab mengubah paradigma berpikir yang telanjur salah kaprah, dari meminjam uang berarti siap ngemplang menjadi siap mengembalikan.

Aktivitas Bambang diawali dengan keterlibatannya dalam organisasi yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat kecil, terutama sejak tinggal di Asrama Realino Yogyakarta dengan tempaan pemahaman tentang politik oleh Pastor Beek SJ. Adapun tempaan dan komitmen pada rakyat kecil dia belajar dan memperoleh penguatan dari Pastor John Dijkstra SJ, untuk masalah keuangan dari Pastor Christian Melchers SJ. Ketiga sosok itulah yang membentuk Bambang Ismawan sebagai seorang social entrepeneur yang tidak bergantung pada pihak ketiga, tetapi melakukannya secara berkelanjutan karena mampu berkembangberdasarkan penghasilan yang diperoleh dari pelayanan itu sendiri (buku pertama, hal 32-33).

Ada kesamaan antara wirausaha dan wirausaha sosial, yakni sama-sama mencari uang. Perbedaannya, wirausaha bertujuan meningkatkan kesejahteraan pemegang saham, wirausaha sosial bertujuan meningkatkan nilai kesejahteraan anggota masyarakat yang menjadi target pelayanannya. Sosok Bambang Ismawan teringkas dalam kedua buku itu. Dialah seorang wirausahawan sosial dengan payung Bina Swadaya sebagai LSM. Bina Swadaya melakukan kegiatan bisnis untuk mendapatkan keuntungan dan keuntungan itu untuk memberdayakan masyarakat (buku pertama, hal 33).


Rumah tanpa pagar

Sebagai wirausahawan sosial, Bambang mencita-citakan masyarakat Indonesia simbolis sebuah rumah tanpa pagar, rumah tanpa palang dengan halaman yang sama. Dalam kisah perjuangan menegakkan keadilan dan mempresentasikan hak-hak rakyat, tidak akan dijumpai cara-cara kekerasan seperti turun ke jalan atau teriak demo ”mendampingi wong cilik” atau ”memberdayakan masyarakat akar rumput”. Lewal Bina Swadaya ia turun ke lapangan, tidak secara fisik menjadi petani, menjadi bankir, atau menjadi tukang becak. Ia menggerakkan sarana dan ajakan agar masyarakat sendiri berubah sehingga bukankah itu cita-cita dan cara kerja yang seharusnya diambil oleh para penggiat masyarakat: mengubah paradigma cara berpikir dan memberikan sarana untuk itu.


Sebagai persembahan ulang tahun, kedua buku ini nyaris tidak banyak beda dalam hal mendudukkan sosok Bambang Ismawan.

Sebagian besar halaman buku pertama diisi oleh komentar dan tanggapan orang lain. Buku kedua berisi perjalanan napas tilas, sekaligus melukiskan bagaimana refleksi selama perjalanan disampaikan oleh Bambang yang kemudian direkam apik oleh Eka Budianta. Buku kedua melengkapi, memberikan kidung pujian (mazmur) untuk sepak terjang Bambang Ismawan selama 70 tahun, 44 tahun di antaranya dalam Bina Swadaya. Untuk itu buku pertama dan kedua harus dibaca bersama-sama, keduanya saling melengkapi. Begitu dibaca bersama, akan kelihatan banyak kisah dan pernyataan yang diulang-ulang, tumpang tindih, baik dalambuku pertama sendiri maupun dalam buku pertama dan kedua sekaligus.

Masih ada cita-cita Bambang yang belum terpenuhi, di antaranya ingin mendirikan koperasi yang benar-benar koperasi untuk rakyat kecil termasuk di dalamnya kegiatan simpan pinjam. Koperasi merupakan sarana masyarakat untuk mandiri, terlihat besarnya peranan gugus-gusus wilayah (guswil) yang berada di lapangan, apalagi guswil-guswil itu akan diubah menjadi koperasi. Koperasi yang dibayangkan tidak sekadar koperasi simpan pinjam, tetapi koperasi dalam layanan menyimpan, meminjam dan konsultasi (jasa pengembangan proyek), dan pengembangan masyarakat.

Jalan panjang melanjutkan cita-cita masih terbentang, seperti dikritik F Rahardi menyangkut bagaimana menjadikan guswil-guswil itu benar-benar menjadi tumpuan harapan rakyat dengan contoh kasus aktual masalah rawan pangan.

Jalan Mudah Yang Menjebak Entrepreneur

Posted on June 1, 2008 |


Apa salah satu godaaan terbesar bagi mereka yang sedang mulai merintis usaha? Kalau menyimak penuturan Agus Suprijadi, bos Yogyes.com, adalah godaan untuk bekerja menjadi karyawan.

Ia merintis usaha hanya berbekal uang enam ribu rupiah pada tahun 2000, separonya habis untuk beli bensin, separonya untuk buat proposal yang ia tawarkan ke berbagai hotel di Jogjakarta. Amat sulit meyakinkan pelaku industri pariwisata Jogja agar bergabung di portal pariwisata asli Kota Gudeg itu. Di saat sulit, tanpa uang, tanpa kepastian masa depan, tawaran bekerja berdatangan. Tanpa mental bisnis, ia sudah pasti akan menerima tawaran itu. “Kalau ingin menjadi pengusaha, harus tangguh,” katanya pada seminar Being a Dotcomer di Jogja Sabtu, 31 Mei 2008 kemarin.

Jelas ia tolak kesempatan itu, meski ia dalam posisi amat butuh uang menunjang hidupnya. Ia memilih bertarung melawan diri sendiri. Dan kini ia memetik hasilnya: Yogyes.com menjadi portal wisata terbesar di Jogja, dan mendapat pujian dari koran dunia The Washington Post, sebagai portal yang wajib dikunjungi sebelum berwisata ke Jogja. Pundi-pundi rupiahnya semakin banyak, sehingga ia berani membeli mobil baru yang kemudian diberi logo Yogyes.com, sebagai media promosi berjalannya.

Jika anda orang kaya, atau anak orang kaya, barangkali agak sulit membayangkan kekerasan hati Agus. Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada ini perantauan dari Bangka Belitung Medan, yang selama kuliah menghidupi dirinya sendiri. Ia harus menjaga irama antara kuliah dan hidup. Kekerasan itulah yang membentuknya untuk tangguh memilih jalan sebagai pengusaha. Ia mampu melewati godaan-godaan untuk cepat berhasil mendapatkan uang. Ia, antara lain, menolak menjadi orang gajian.

Lebih dari itu, ia juga berhasil menolak godaan berupa jalan mudah lain: suap. Ia menolak praktik suap-menyuap untuk mendapatkan proyek. “Sekali kita melakuan hal itu, kita tidak akan pernah membangun kompetensi menjadi yang terbaik,” katanya.

Saya sepakat soal itu. Sekali kita membangun jalan mudah mendapatkan rezeki dengan suap, maka kita akan melupakan upaya membangun kompetensi kita sendiri. Kita bisa abai terhadap kualitas layanan dan jasa kita karena merasa sudah menyumpal mulut klien dengan uang suap. Kompetensi yang kita kembangkan akhirnya bukan kompetensi untuk kualitas, tetapi kompetensi untuk menyuap. Mereka yang terjebak di sini akan menjadi usahawan yang tanpa kompetensi. Begitu pasar dibuka, suap diberangus, mereka akan hilang dari peta persaingan.

Saya jadi teringat kisah Paulus Bambang, Vice President Director PT United Tractor ketika membangkitkan perusahaan tersebut dari keterpurukan. Kecuali melakukan langkah-langlah strategis, perusahaan juga melarang praktik-praktik suap yang sudah biasa terjadi di dunia pertambangan. Semula, langkahnya melarang suap ditertawakan banyak orang. Namun, hasilnya luar biasa. United Tractor bisa berubah jadi penyedia alat-alat berat menjadi perusahaan solusi untuk pertambangan. Sudah begitu, perusahaan mampu lolos dari jebakan kerugian dan kebangkrutan. Bahkan, perusahaan publik itu berhasil mencatat pertumbuhan penjualan dan laba yang luar biasa tahun lalu.

Saya sendiri termasuk yang keras dalam hal suap. Pernah pernah menolak mengerjakan sebuah proyek yang kami menangkan hanya karena masalah suap. Saya memilih mundur dan kehilangan peluang mendapatkan proyek yang nilainya cukup besar untuk ukuran perusahaan saya. Hati saya kecewa waktu itu, karena kehilangan profit dan cashcow yang bagus. Tapi sekarang saya justru senang, karena dengan menghindari jalan mudah itu, tim saya makin bagus, kesempatan kami mengerjakan proyek lain yang bersih dari suap makin banyak. Rejeki kami tidak kurang.

Dalam dunia usaha, banyak jalan mudah untuk kaya dan berlimpah uang. Tapi jalan mudah seringkali menjebak. Pindah haluan, suap, dan banyak lagi jalan mudah lainnya (misalnya menipu dan memberi janji-janji sorga kaya mendadak tetapi sesungguhnya kita hanya mengeruk uang mereka yang terpesona janji cepat kaya), memang cara cepat menjadi kaya. Namun Agus berhasil menunjukkan, tanpa jalan mudah ia berhasil membangun bisnis yang menarik. Sementara Paulus Bambang bukan hanya berhasil mengubah dari rugi menjadi laba, bahkan membangun United Tractor wajah baru sebagai perusahaan solusi dengan penjualan Rp 18 triliun (delapan belas triliun rupiah) pada tahun 2007.

Di tengah munculnya tantangan baru (kenaikan harga minyak, kenaikan harga barang modal, kenaikan gaji karyawan, penurunan daya beli masyarakat), inilah momentum untuk makin berkeras hati membangun kompetensi perusahaan dan tim agar perusahaan makin memiliki daya saing yang bagus dan solusi yang makin prima.

Saya jadi teringat sebuah kalimat menarik — entah siapa yang membuatnya. “Jika anda lunak pada diri sendiri, maka dunia akan keras kepada anda. Sebaliknya, jika anda keras pada diri sendiri, dunia akan lunak kepada anda”.

Ingin Jadi Entrepreneur? Jawab Dulu 7 Pertanyaan Ini

Oleh Dr. HC Ir. Ciputra
Pendiri Yayasan Ciputra Entrepreneur

Saya bersyukur kepada Tuhan telah mengarungi samudra entrepreneurship selama lebih dari 50 tahun dengan modal dana awal yang dapat dikatakan nol. Modal utama saya pertolongan Tuhan dan kecakapan entrepreneurship.

Dalam perjalanan panjang ber-entrepreneurship saya pernah mengalami berbagai perjalanan berliku, naik turun, gagal dan juga berhasil.

Oleh karena itu saya merasa bangga bila kemudian E&Y, sebuah organisasi dunia memberikan penghargaan menjadi E&Y Indonesia Entrepreneur of The Year 2007 setelah meneliti perjalanan hidup saya dan prestasi yang pernah saya capai.

Saya simpulkan entrepreneurship mengubah masa depan manusia jadi lebih baik dan menciptakan kemakmuran, mengingat latar belakang saya sebelumnya sebagai anak yatim dari keluarga sangat sederhana.

Sekitar 2 tahun yang lalu ketika saya mencapai usia 75 tahun saya memutuskan untuk menyebarkan dan membagikan seluas mungkin kecakapan entrepreneurship kepada masyarakat melalui Yayasan Ciputra Entrepreneur.

Saya berkeyakinan kuat cita-cita kemakmuran Indonesia bukan sebuah mimpi di siang hari bolong asalkan kita lahirkan banyak entrepreneur-entrepreneur baru yang sukses. Melalui Yayasan Ciputra Entrepreneur saya ingin wariskan kepada masa depan bangsa Indonesia yang saya cintai semangat dan kecakapan entrepreneurship.

Dalam rangka tujuan itu saya menyusun sebuah panduan 7 pertanyaan penguji untuk mereka yang ingin jadi seorang entrepreneur yang sukses.

Pertanyaan 1: Apakah Anda sangat passionate untuk jadi seorang entrepreneur?

Kalau Anda ingin berhasil dalam entrepreneurship Anda harus memiliki keinginan yang sangat besar, semangat baja dan percaya diri untuk jadi entrepreneur. Tidak bisa iseng-iseng untuk jadi entrepreneur, motivasi iseng-iseng tidak cukup kuat untuk menghadapi tantangannya. Anda harus rela dan berani bekerja dengan jam yang panjang, mencoba hal yang baru, tetap berusaha walau ditolak dan diabaikan, mau belajar dari kegagalan dan sebagainya.

Pertanyaan 2: Apakah Anda melihat sebuah kesempatan besar melayani pasar secara kreatif?

Kerap saya melihat banyak orang gagal dalam bisnis karena tidak melihat peluang secara kreatif. Mereka hanya meng-copy keberhasilan orang lain tanpa menambahkan nilai-nilai kreativitas ke dalam produknya.

Ada berapa banyak peluang itu sesungguhnya? Banyak sekali, tidak terhitung, masalahnya Anda harus melihatnya dengan kaca mata kreatif. Berapa banyak peluang yang Anda bisa lihat tergantung sejernih apa kaca mata kreativitas anda?

Inovatif

Pertanyaan 3: Apakah Anda memiliki sebuah produk inovatif yang ketika Anda tawarkan, prospek Anda tidak mampu mengatakan tidak?

Sebuah produk inovatif memberikan nilai tambah maksimum sedemikian rupa hingga konsumen tidak mampu mengatakan tidak ketika Anda menawarkannya.

Oleh karena itu verifikasi asumsi-asumsi anda, lakukan uji pasar dan perbarui terus ide Anda sampai anda yakin pelanggan tidak sanggup mengatakan tidak ketika anda menawarkannya.

Pertanyaan 4: Apakah Anda memiliki kapasitas untuk memenangkan persaingan secara efektif?

Pasar yang kita hadapi adalah pasar bebas yang membuka pintu lebar-lebar kepada persaingan. Ja-ngan pernah masuk ke sebuah pasar tanpa memperhitungkan apa yang sedang dan akan dilakukan oleh pesaing. Pastikan bahwa pelanggan akan memilih anda. Nasehat bisnis ini perlu anda pikir baik-baik, be better not behind, if you are not better be different. Kalau belum better dan belum different pekerjaan rumah anda belum selesai.

Pertanyaan 5: Apakah Anda tahu bagaimana menghasilkan produk atau jasa yang ingin Anda pasarkan dengan cara yang paling efisien?

Setelah Anda memastikan bahwa pelanggan dapat Anda capai dan bisa puaskan maka pihak selanjutnya yang Anda harus puaskan adalah pemegang saham dan karyawan perusahaan.

Mereka harus Anda layani dengan margin laba yang cukup untuk gaji dan dividen yang memuaskan. Oleh karena itu lakukanlah eksplorasi berbagai kemungkinan produksi yang termurah namun dengan kualitas yang terbaik.

Pertanyaan 6: Apakah Anda tahu bagaimana caranya mendanai keseluruhan usaha baru Anda dengan biaya termurah serta risiko terendah sementara hasil terbaik tetap dapat Anda da-patkan?

Ada berbagai cara untuk mendanai sebuah usaha baru dan ada beragam besar risiko yang bisa terjadi. Anda bisa meminjam uang dari keluarga, teman, tetangga atau dari bank. Anda bisa mengajak teman jadi pemegang saham atau mengundang modal ventura untuk ikut memulai usaha.

Setiap pilihan memiliki plus dan minus tersendiri, hasil akhir dan risiko yang berbeda. Oleh karena itu jangan hanya membuat sebuah model bisnis, kembangkan berbagai alternatif dan pilih yang terbaik.

Pertanyaan 7: Apakah Anda siap menghadapi tuntutan kerja keras, risiko gagal dan rugi? Tidak ada gading yang tak retak, tidak pernah ada rencana yang sempurna.

Dari pengalaman saya perubahan dapat terjadi kapan saja oleh karena itu penyesuaian-penyesuaian harus tetap dilakukan. Walaupun demikian risiko gagal atau rugi ataupun risiko malu karena gagal tetap ada. Lakukan kalkulasi sebelumnya dan pastikan Anda berani menghadapinya


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar